Showing posts with label Mangkuyudo. Show all posts
Showing posts with label Mangkuyudo. Show all posts

Wednesday, 10 February 2016

SILSILAH MANGKUYUDO KEDU


Raden Adipati Danurejo
Silsilah ini diceritakan oleh Kanjeng Adipati Aryo Danurejo V di Yogyakarta, menurut Buku Tedhakan Raden Bekel Danuatmojo ing Genjuron. Silsilah ini fokus pada silsilah Mangkuyudo saja, untuk silsilah yang lain yang masih berhubungan dengan silsilah ini sengaja tidak ditampilkan untuk memudahkan penggambaran silsilah.

BRAWAIJAYA V 
berputra 
RADEN BONDHAN KEJAWEN 
berputra 
KI AGENG GETAS PANDAWA/SYEH NGABDULLAH 
berputra
KI AGENG SELA/NGABDURAHMAN/BAGUS SANGGOM
berputra
KI AGENG NIS/KI AGENG LAWEYAN
berputra
KI AGENG KAROTANGAN/BAGUS BLANCER/PAGERGUNUNG I
berputra
KI AGENG MANGUNENG I
berputra
KI AGENG MANGUNENG II
berputra
KI AGENG MUNENG
berputra
KYAI PROYOGATI
berputra
KYAI WONGSOCITRO/TUMENGGUNG MANGKUYUDO I
berputra 2 orang
KI LEMBU/TUMENGGUNG MANGKUYUDO II 
dan 
KI BUWANG/TUMENGGUNG NOTOYUDO I


KI LEMBU/TUMENGGUNG MANGKUYUDO II berputra 3 orang
1. dari istri Kaliwungu : KYAI MANGKUDIRONO I/MANGKUYUDO III/TUMENGGUNG AMANGKUREJO
2. dari istri B.R.Ay MANGKUYUDO: RADEN MAS SUKROMO/TUMENGGUNG MANGKUPROJO
3. dari istri Panularan: KYAI MANGKUDIRONO II

KYAI MANGKUDIRONO/MANGKUYUDO III beputra perempuan diperistri TUMENGGUNG SOROWADI kemudian berputra TUMENGGUNG MANGKUYUDO IV/ADIPATI SINDUREJO III <Pancer Wadon sehingga saat menjabat sebagai bupati Bumi menggunakan nama Mangkuyudo namun setelah menjabat jadi patih menggunakan nama Sindurejo>

TUMENGGUNG MANGKUPROJO dari istri B.R.Ay. MANGKUPROJO berputra RADEN MAS MANGKUWIJOYO dan RADEN MAS MANGKUDIWIRYO.
<keduanya mengikuti Mangkubumi/Sultan Hamengkubuwana I>



kembang teleng, inspirasi bendera wadana Bumi

Kêmbang têlêng (têngah biru pinggir putih), tanpa ciri, gênderane abdi dalêm wadana bumi.

JEJAK PUDAR KI AGENG KAROTANGAN

Beberapa tulisan yang lalu dengan berani saya menyebut Pager redi alias Pager Gunung adalah merujuk pada sebuah nama daerah di Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, Setelah sekian waktu berkutat untuk mencari sosok Ki Ageng Karotangan yang telah menurunkan tokoh-tokoh besar pada zamannya, sekelas Tumenggung Pronotoko I alias Adipati Mondoroko II yang menjadi patih Amangkurat II, Pronotoko II atau Arya Sindurejo I yang duduk menjadi patih Amangkurat II selama bertahun-tahun mengabdi hingga memunculkan kisah cinta Raden Ayu Lembah, Kemudian Adipati Sindurejo II dan Adipati Sindurejo III. Ternyata asumsi saya tersebut salah besar. Karena Pagergunung di Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung tidak ada sama sekali ditemukan rekam jejak mengenai Ki Ageng Karotangan maupun keturunannya dari Klan Pagergunung.

Mengapa perlu membahas mengenai sosok Ki Ageng Karotangan. Dalam jejak rekam Wongsocitro alias Mangkuyudo, Ki Ageng Karotangan ini adalah juga moyangnya, walau dari silsilah versi Mangkunegaran Ki Ageng Manguneng yang merupakan anak Ki Ageng Karotangan-selain Ki Ageng Sutomarto I atau dalam versi Mangkunegaran Kyai Sutogati.

Makam Patih Sindurejo I di Paremono, Mungkid, Magelang

Bila mencari petilasan makam ki Ageng Karotangan maka akan ditemukan 2 komplek pemakaman, yaitu Pemakaman Paremono di Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang dan komplek Pemakaman Pager gunung di Piyungan, Kabupaten Bantul. Yang mana yang lebih valid?

Ini teori saya, dan setiap teori bisa dibantahkan dengan menggunakan sumber-sumber yang lebih otentik daripada sumber yang menjadi pegangan saya saat ini. Karena tidak ada yang mutlak dalam menentukan sejarah yang telah terjadi ratusan tahun yang lalu. Kita cuma bisa mengira-ira dan mencoba membayangkan saja.

Teori saya, Ki Ageng Karotangan sebagai pembuka klan Pager Gunung berada di Piyungan-Bantul-Yogyakarta. Dengan Asumsi:
1. Daerah tersebut benar-benar bernama Pager Gunung, tidak seperti Mungkid yang jauh dari daerah yang bernama Pager Gunung.
2. Daerah sekitar Pager Gunung yang ada di Piyungan bantul ditemukan nama desa seperti: Karang Gayam, Karang Plasa yang menurut Babad Pagergunung merupakan anak keturunan Ki Ageng Karotangan. Sementara daerah Paremono tidak ditemukan nama-nama desa tersebut.
3. Makam di Piyungan= Ki Ageng Karotangan/Karutangan, Ki Joko Pagergunung/Sutomarto I dan Ki Mondoleko. Khusus untuk ki Mondoleko bisa jadi merujuk pada sosok Pronotoko I yang diberi nama Mondoroko oleh Amangkurat II. Tokoh ini menghilang tidak disebut dalam babad Tanah Djawi pada zaman Amangkurat II pasca kekalahan Trunojoyo, sedang amangkurat II awal pemerintahannya belum punya kraton karena Plered masih dikuasai adiknya Pangeran Puger. Sementara di Mungkid disebutkan ada Makam Arya Sindurejo dan sanak famili serta keturunannya.
4. Ki Ageng Karotangan adalah saudara Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Ageng Pemanahan diberi tanah oleh Hadiwijaya/raja Pajang tanah Mentaok/Mataram yang berada di Yogyakarta sekarang. 

Makam Ki Ageng Karutangan, Pagergunung, Sitimulya, Piyungan Bantul

Bila Teori saya bisa diruncingkan, maka kemungkinan pada periode Ki Ageng Karotangan dan generasi awalnya, mereka berdomisili di Pager Gunung Desa Sitimulya, Piyungan, Bantul. Namun pada generasi berikutnya, pada era Kartasura dan Surakarta Klan Pagergunung ini bergeser ke wilayah Magelang atau tepatnya Mungkid. Sehingga diwilayah Magelang ada sebutan Pagergunung di wilayah Temanggung juga ada. Seperti halnya anak keturunan Ki Ageng Karotangan yang satunya, Ki Ageng Manguneng, yang bergeser ke wilayah Kedu utara/Kedhu Payung. Yang kemudian menurunkan tokoh Wongsocitro alias Mangkuyudo Kedu yang Pertama.

Mengapa diwilayah Jogja/Bantul? Teori yang masuk akal adalah, Ki Ageng Pemanahan diberi tanah perdikan Mentaok/Mataram oleh Hadiwijaya didaerah Yogyakarta. Bisa saja karena masih kerabat Ki Ageng Karotangan juga mendiami wilayah tersebut. Dan Ki Ageng Nis/Ngenis/Enis domisilinya di Laweyan Solo. Solo dulu/zaman Demak tentu berbeda dengan solo zaman Kartasura/Surakarta. Kemungkinan Laweyan adalah daerah perdagangan pada zaman Pajang dan dibawah Pajang. 

Gerbang Makam Ki Ageng Nis di Laweyan Solo, sumber Aroengbinang project.com
Apapun itu, Teori ini hanya hasil analisa dari kajian beberapa sumber yang kemungkinan masih kurang dari cukup karena masih banyak sumber-sumber lain yang baik tertulis maupun tidak yang belum saya ketahui. Harapannya dengan kajian kecil ini bisa menjadi sharing pemikiran dan menambah pengetahuan. 

Tanpa tendensi hanya sekedar mengembarakan analisa dan belajar menyimpulkan sebuah teori.

Thursday, 10 September 2015

Wongsocitro si Mangkuyudo dalam peristiwa Trunojoyo Kraman



Membaca kisah heroik seorang Wongsocitro atau Raden Tumenggung Mangkuyudo I dari Kedhu tentu haruslah membaca kisah peperangan Trunojoyo. Sudah banyak buku dan cerita yang mengisahkan bagaimana Trunojoyo dan siapa Trunojoyo. 

Trunojoyo (divapress)

Secara garis besar, Trunojoyo adalah seorang menantu Amangkurat I (Sunan Seda ing Tegalarum). Kesewang-wenangan Amangkurat Agung memang membuat raja pengganti Sultan Agung Hanyokrokusumo tersebut sangat dibenci oleh kalangan luar kraton. Teror yang ditampilkan dalam pemerintahannya menutupi ketidak becusannya mengurusi negara besar yang diwariskan ayahnya. Amangkurat Agung terkenal memiliki kebiasaan yang tidak manusiawi. Dalam sebuah cerita, demi memuaskan diri, Amangkurat Agung mengadakan pagelaran gladiator bak raja-raja di Roma. Bila dalam budaya kraton ada istilah rampok atau mengadu harimau dengan manusia atau berburu harimau, maka Amangkurat Agung memberikan variasi dengan pertunjukkan harimau yang memangsa seorang budak perempuan atau tahanan perempuan. Bahkan dalam catatan sejarah diceritakan, Amangkurat Agung pernah membantai ribuan ulama yang tidak mendukung gelar sultannya. Hal itulah yang membuat dirinya tak mendapatkan gelar Sultan seperti halnya ayah pendahulunya. Diceritakan pula saat salah seorang selirnya meninggal, Amangkurat ini turut membakar 100 perempuan.

Trunojoyo tampil sebagai pahlawan yang membela kaum yang lemah. Ia kembali ke Madura dan merebut Madura. Pada waktu itu banyak orang-orang Makasar yang melarikan diri dan menjadi perompak dan bajak laut setelah kekalahan Sultan Hasanuddin dari VOC. Dengan bantuan mereka, Trunojoyo berhasil menguasai daerah pesisir bang wetan (Jawa daerah Timur). Apalagi banyak dukungan dari para bangsawan yang membenci raja lalim yang mulai berdatangan.

Ekspedisi Mataram ke bang wetan untuk menumpas pemberontakan Trunojoyo mengalami kekalahan. Banyak bupati yang takluk pada Trunojoyo dan membentuk aliansi besar untuk menyerang pusat pemerintahan Mataram saat itu, di Plered. Dibawah pimpinan seorang Madura yang bernama Tumenggung Mangkuyudo, armada besar Trunojoyo dengan pasukan intinya yang bernama prajurit Sinelir, berhasil menguasai ibukota Mataram tersebut. 

Amangkurat Agung dalam sebuah cerita melarikan diri bersama anak istrinya dan para dayang ke Imogiri pada malam hari ketika pasukan Trunojoyo mengepung ibukota Plered, meninggalkan rakyatnya untuk dibantai pada pagi harinya. Ia melarikan diri ke Imogiri. Karena para bangsawan menolak membantunya, Amangkurat Agung dikabarkan hampir gila dengan kebiasaannya bermain layang-layang hingga sakit-sakitan. Akhirnya ia bertemu Pangeran dipati Anom (Amangkurat II). Demi meminta bantuan VOC yang dulu dimusuhi ayahnya, Amangkurat Agung mengajak anaknya menuju ke Batavia. Namun sampai di Tegal, Amangkurat Agung meninggal.

Sebelum meninggal, ia meminta Pangeran Dipati Anom untuk menyerang kembali ibukota namun ditolak oleh anak kesayangannya tersebut, akhirnya adik Pangeran Dipati Anom yang bernama Pangeran Puger yang diperintah untuk melaksanakan tugas tersebut. Sementara Pangeran Puger menggalang kekuatan dan berhasil mengusir pasukan Trunojoyo dari Plered, Pangeran Dipati Anom yang berhasil mendatangkan bala bantuan dari Batavia mengangkat diri menjadi raja. Raja tak bersinggasana inilah yang akhirnya mengangkat pejabat-pejabat rendahan yang masih setia kepada ayahnya menjadi pejabat-pejabat teras Mataram. Beberapa diantaranya adalah Tumenggung Pronontoko, Adipati Mondoroko, Kyai Sendhi, Tumenggung Wiradigda dll. Lewat orang-orang itulah Amangkurat Amral mendapatkan bala bantuan baru.
Wongsocitro yang diceritakan dalam Wongsocitro (Raden TumenggungMangkuyudo I) dalam pemikiran dan Sejarah Mangkuyudo, mendapatkan gelar kebangsawanannya pada waktu itu. Entah sengaja karena terinspirasi oleh kehebatan Tumenggung Mangkuyudo Sampang atau Madura atau ketidaksengajaan, karena Mangkuyudo memiliki makna senapati perang, Amangkurat Amral memberi nama tersebut kepadanya.

Raden Tumenggung Mangkuyudo Kedhu alias Ki Wongsocitro dalam Babad Tanah Jawi baik versi Mainsma maupun Balai Pustaka secara detil digambarkan memiliki kekuatan luar biasa. Mainsma menceritakan bahwa Mangkuyudo Kedhu berhasil membunuh Mangkuyudo Sampang dan Dhandang Wacana, 2 orang pimpinan pasukan darat Trunojoyo. Babad Tanah Jawi versi Balai Pustaka menceritakan heroiknya Wongsocitro saat armada Mataram dan VOC menyerbu benteng pertahanan terakhir Trunojoyo di kediri.

Durma
Kêbatira wau Radèn Trunajaya | gya akèn inêb kori | lajêng tinuguran | dene ingkang ingatag | tinanggênah têngga kori | pun Darmayuda | ing Pasêdhahan wani ||
Wong Mataram angungsêd arêbat lawang | rame ungkih-ingungkih | pan ora darana | Tumênggung Mangkuyuda | anglancangi sigra prapti | ngarsaning lawang | jinêjak ponang kori ||
Pan rêmuk kori ing Kadhiri jinêjak | Mangkuyuda kaaksi |saksana tinumbak | dhatêng Ki Darmayuda | kêna jajane trus gigir | Ki Mangkuyuda | sigra malês nglarihi ||
Darmayuda kang winalês linarihan | tinumbak ingkang kêni | gêgurunge pêgat | ya ta sarêng aniba | kalih parêng angêmasi | Ki Mangkuyuda | pêjah jawining kori ||
Darmayuda pêjah salêbêting lawang | gègère tan sinipi | sadalêming kutha | pêjahe Darmayuda | anglir gabah dèn intêri | kang rêbat marga | sêdyane ngungsi urip ||

Terjemahan bebas:
Pasukan Trunojoyo yang lari masuk ke dalam kota Kediri mencoba menahan gerbang kota dari dalam dipimpin oleh Dermoyudo. Pasukan Mataram yang mengejar mencoba meringsek masuk namun ditahan dari dalam sehingga terjadi saling dorong. Mangkuyudo (Wongsocitro) akhirnya datang. Gerbang tersebut ditendangnya hingga hingga hancur. Kemudian Durmoyudo menyerangnya dengan tombak hingga menembus dadanya, sebelum jatuh, Mangkuyudo berhasil membalasnya. Keduanya sama-sama tewas. Mangkuyudo jatuh didepan gerbang sementara Dermoyudo didalam gerbang (sampyuh).

Dari cerita diatas, walau Mangkuyudo Kedhu adalah orang yang dipihak raja lalim, karena Amangkurat Amral juga tak lebih baik dari ayahnya. Namun sebagai seorang prajurit, seorang senapati, ia telah menunjukkan darma bakti untuk negaranya. 

Dalam catatan buku-buku kuno, walau banyak yang membenarkan tindakan Trunojoyo terhadap raja lalim Amangkurat Agung, namun pemberontakan tersebut telah membuat rakyat Mataram dalam kesengsaraan. Dan Belanda, lewat VOC, mulai menancapkan kukunya di bumi Mataram sejak perang peristiwa itu. Namun apapun itu, sejarah adalah bahan pembelajaran bagi orang yang hidup dimasa berikutnya. Sekuat apapun seorang raja lalim akan berakhir tragis dan hanya mewariskan tahta berdarah kepada generasi berikutnya.

Amangkurat Amral

Amangkurat Amral yang menjadi penerus Amangkurat Agung tak lebih baik. Dengan darah dingin ia membantai orang-orang Giri Kedhaton, membunuh Trunojoyo yang telah takluk, membunuh Adipati Tegal yang telah menampungnya selama dalam pengasingan, mengalami banyak pemberontakan walau sudah memindahkan ibukota kerajaannya ke Kartasura, seorang raja Jawa yang menjual setiap jengkal tanah yang dikuasi moyangnya demi kekuasaan. Semua itu adalah torehan sejarah berdarah mengenai tahta Mataram yang kelam tanpa mengurangi rasa hormat terhadap setiap tokoh yang ada didalamnya.




Wednesday, 9 September 2015

Wongsocitro (Raden Tumenggung Mangkuyudo I) dalam pemikiran



Setelah sekian waktu mencari, akhirnya menemukan juga buku yang berjudul Babad Tanah Jawi (Balai Pustaka,1932). Buku ini adalah hasil cetakan dari kumpulan pupuh-pupuh Babad Tanah Jawi yang dikumpulkan di negeri Belanda, yang masih dalam bentuk tembang. Banyak cerita sejarah yang dibicarakan dan dibahas, walau masih dengan bahasa Jawa kuno yang kadang tak bisa dipahami, dan babad ini juga membicarakan tentang sosok Wongsocitro (Raden Tumenggung Mangkuyudo I). Sama seperti saat mendapatkan fotokopian Babad Tanah Jawi in Proza (J.J. Mainsma tahun 1874), hal yang ingin dicari pertama adalah mengenai tokoh satu tersebut, begitupun ketika mendapatkan buku Babad Tanah Jawi Balai Pustaka ini.
Rasa Penasaran mengenai pada sosok Mangkuyudo ini pertama kali muncul ketika suatu hari melewati jalan alternatif (Muntung-Jumo) dan mendapati plang besar bertuliskan “Makam Wali Mangkuyudo”. Ketika membaca kata “Wali” maka dipikiran kita adalah mengenai sosok penyebar agama yang mengenakan jubah-jubah putih ala Wali Songo atau setidaknya tokoh Islam yang berpengaruh. Rasa penasaran tersebut timbul tatkala Mangkuyudo yang pernah pakde-pakde atau mbah-mbah ceritakan dahulu bukanlah sosok seperti penggambaran wali songo atau tokoh agamawan seperti yang kini terlintas dikepala saat membaca plang tulisan tersebut.
Pertanyaannya adalah apakah mbah-mbah atau pakde-pakde selama ini salah menceritakan sosok Mangkuyudo atau sebaliknya, orang-orang yang memanfaatkan nama besar Mangkuyudo dengan asal comot mengangkat atau menganggapnya wali? Tidak bisa dipungkiri, Astana Pakuncen dan Makam dibelakang Langgar yang kini disebut Masjid Mangkuyudo, adalah tempat yang slalu diziarahi oleh orang-orang sejak zaman dulu. Bahkan ada sebuah kisah dari mbah putri almarhum jika Ndoro Jatun (Sultan Hamengku Buwono IX) saat masih muda sering berkunjung ke Desa Ketitang utamanya ke Astana Pakuncen dan Mushola/Langgar dengan iring-iringan dari Kraton Yogyakarta.

Dengan mencari beberapa kajian pustaka mengenai sosok Mangkuyudo maka akhirnya didapatkan garis besar sosok Mangkuyudo I seperti dalam Sejarah Mangkuyudo. Bila Mangkuyudo disebut wali maka harus ada dasar tulisan atau apapun itu yang mendukung bahwa beliau berhak menyandang kewalian. Namun bila beliau-beliau yang dimakamkan di Astana Pekuncen yang menyandang gelar Tumenggung Mangkuyudo tersebut hanyalah seorang abdi negara atau senapati perang seperti apa yang mbah-mbah dan pakde-pakde ceritakan dulu, maka semoga tulisan ini bisa membuka wawasan kita agar tidak dibodohi oleh segelintir orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari nama besar seseorang.
Dalam Babad Tanah Jawi-nya Mainsma, diceritakan bahwa Mangkuyudo I atau Ki Wongsocitro hanyalah seorang biasa yang dihormati di Kedhu. Seperti dalam cuplikan:

Kala samantên ing Kêdhu taksih sangêt rêsah, kathah tiyang begal kècu mêmaling, sadhatêngipun Radèn Nêrangkusuma tiyang ing ngriku kathah kang sami têluk. Nuntên wontên têtiyang ing Kêdhu satunggal anama Wôngsacitra, sowan sumêja suwita ing Radèn Nêrangkusuma sarta anakipun kêkalih, anama Ki Lêmbu kalih Ki Buwang, balanipun kathah, pangabdinipun inggih sampun katampèn. Ki Wôngsacitra kadhawahan anguyuni tiyang ing Kêdhu sadaya, inggih sampun sami suyud dhatêng Ki Wôngsacitra, Radèn Nêrangkusuma nuntên utusan ngaturi uninga ing sang prabu, sarta sampun kaparingan wangsulan mawi piyagêm, kaparingakên dhatêng Ki Wôngsacitra, kala samantên Wôngsacitra nuntên kaangkat nama Tumênggung Mangkuyuda angrèhakên tiyang Kêdhu sadaya, Ki Lêmbu lan Ki Buwang kapundhut ing sang prabu kaabdèksakên.
Radèn Nêrangkusuma sarêng sampun angsal pawartos bab nagari Matawis, lajêng bidhal wangsul dhatêng Têgal. Ki Tumênggung Mangkuyuda sabalanipun sarta anakipun kêkalih inggih sami andhèrèk.

Kurang lebih dalam Babad Tanah Jawi Balai Pustaka yang berbentuk tembang Dhandhanggulo, diceritakan bagaimana Ki Wangsacitra/Wongsacitra/Wongsocitro bisa mendapatkan kepangkatan/gelar Raden Tumenggung dan mendapatkan sebutan Mangkuyuda/Mangkuyudo.

nanging Ki Wôngsacitra ing mangkin pan ingidhêp dening wong akathah
dadi gêgunungan dhewe anèng desa ing Kêdhu
datan ana lêngganèng kapti sira Ki Wôngsacitra
prakosa atêguh kalawan bawalêksana
marmitane kinalulutan wong cilik sira Ki Wôngsacitra

kawarnaa wau kang lumaris kang anama Arya Sindurêja
nênggih Kathithang jujuge samana sampun rawuh
ing Kathithang rêrêb tumuli andhèr kang pamondhokan
ing desa supênuh kawarnaa Wôngsacitra
sigra sowan mring Sindurêja tumuli sarwi ambêkta sêgah

sakalangkung dènira mintasih Sindurêja lêga ingkang manah
dening tumingal sakèhe wong Kêdhu kathah rawuh
pan sumuyud sarwi tur bêkti sira Ki Wôngsacitra
kang dadya gêgunung wong ing Kêdhu ingirupan
Sindurêja sakalangkung dènirasih marang Ki Wôngsacitra

 malah akarsa jinunjung linggih  apan dinamêl bêbundhêlira
 tiyang Kêdhu sakathahe  ya ta sampun arêmbug
kintun sêrat dhatêng Têtêgil mring Susunan Mangkurat
tan kawarnèng ênu apan sampun ingidenan
ing susunan pinaring lorodan nyamping  sira Ki Wôngsacitra

 tan kawarna wus jinunjung linggih  ingkang anama Ki Wôngsacitra
sampun alêlinggih lante anama Ki Tumênggung
Mangkuyuda dadya têtindhih  tiyang Kêdhu sadaya
pan sampun sumuyud ing Tumênggung Mangkuyuda
Sindurêja kalangkung lêga ing galih ing Kêdhu wus atata

Dari kedua sumber bahan pustaka tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Mangkuyudo I atau Ki Wongsocitro/Kyai Wongsocitro adalah seorang yang dihormati karena kekuatannya bukan ahli agama atau wali atau panembahan. Bahkan dalam Babad Tanah Jawa tembang diceritakan secara detail bagaimana Arya Sindurejo yang berasal dari Juma (Jumo, Temanggung). Sindurejo (bernama Tumenggung Pronontoko yang kemudian berhasil melaksanakan tugas dari Amangkurat Amral untuk mengambil kembang Wijayakusuma dan diangkat menjadi adipati dengan nama Sindurejo) dan Wongsocitro sebenarnya masih famili dari garis Ki Ageng Karotangan. Ki Ageng Karotangan yang memiliki 2 orang putra, Ki Ageng Manganeng dan Kyai Sutomarto. Bila Mangkuyudo dari garis Ki Ageng Manganeng (Muneng, Candiroto, Temanggung) maka Sindurejo dari garis Kyai Sutomarto (Pager Gunung, Bulu, Temanggung).

*catatan kecil dari seorang pecinta sejarah yang semasa kecil mendapatkan cerita mengenai kehebatan Mangkuyudo dari mbah putrinya. 2012.